Chelsea dan Arsenal Pastikan Tempat di Final Piala FA

Dua klub asal London, Chelsea dan Arsenal memastikan tempat mereka di Final Piala FA musim ini. The Blues berhasil lolos ke babak final usai mengandaskan perlawanan Tottenham Hotspur dengan skor 4-2. Sementara itu, The Gunners sukses melaju ke final setelah berhasil meraih kemenangan come back pada laga semifinal kontra Manchester City.

Kedua tim bisa dibilang tidak begitu diunggulkan untuk bisa meraih tiket ke babak final. Arsenal yang secara statistik memang kerap mengalami sejumlah hasil kurang memuaskan akhir-akhir ini. Sementara itu Chelsea, meskipun cukup berjaya di liga, mereka kerap menelan sejumlah kekalahan tidak terduga dalam beberapa laga terakhir mereka.

Akan tetapi, keraguan publik tersebut berhasil dipatahkan dengan sempurna oleh Antonio Conte dan Arsene Wenger. Conte sukses membawa Skuad London Biru lewat kemenangan absolut 4-2, sementara itu Wenger sendiri sukses membimbing skuad asuhannya melakukan come back. Laga final antara Chelsea melawan Arsenal sendiri akan digelar sebulan dari sekarang.

Willian Sumbang Dua Gol Kontra Spurs

Chelsea berhasil mengklaim spot di Final Piala FA usai menundukan Tottenham Hotspur dengan skor 4-2

Chelsea berhasil mengklaim spot di Final Piala FA usai menundukan Tottenham Hotspur dengan skor 4-2

Datang ke Wembley Stadium dengan status sebagai pimpinan klasemen musim ini, Chelsea tentu tidak sedikirpun mengharapkan hasil lain selain menang. Apalagi Tottenham Hotspur yang di liga kini berada satu peringkat di bawah The Blues atau runner up. Tidak heran jika laga pada tengah pekan kemarin berlangsung dalam tensi yang cukup tinggi.

The Blues memimpin lebih dulu lewat aksi Willian saat laga baru berlangsung 5 menit. Eksekusi tendangan bebas pemain asal Brasil tersebut meluncur mulus ke gawang yang dijaga Hugo Lloris. Namun tidak butuh waktu lama, The Lilywhites sukses menyamakan lewat tandukan Harry Kane pada menit ke-18 memaksimalkan umpan dari sisi kanan Tottenham Hotspur.

Jelang turun minum, Willian kembali membuat The Blues unggul lewat eksekusi penaltinya. Namun sayang saat babak kedua berjalan tujuh menit, Delle Alli sukses kembali menyamakan kedudukan lewat sontekan kaki kirinya. Pertandingan berjalan alot hingga akhirnya Eden Hazard berhasil memecah kebuntuan Skuad London Biru. Lima menit jelang laga usai, tendangan geledek Nemanja Matic memastikan kemenangan Chelsea menjadi 4-2.

Sanchez Pastikan Kemenangan Arsenal

Alexis Sanchez yang sukses mencetak gol penentu kemenangan The Gunners atas Citizens

Alexis Sanchez yang sukses mencetak gol penentu kemenangan The Gunners atas Citizens

Di lain sisi, momen serupa juga dialami Skuad Meriam London. Mesut Ozil dan kawan-kawan berhasil melakukan come back atas Manchester City yang berarti juga sekaligus memastikan tempat mereka di final. Meski tidak begitu diunggulkan  dalam laga ini, The Gunners sukses memastikan kemenangan atas skuad asuhan Pep Guardiola dengan skor akhir 2-1 tersebut.

Kedua tim menutup babak pertama pertandingan dengan skor kacamata. Namun Manchester City mencoba untuk bermain lebih menekan pada babak kedua. Alhasil pada menit ke-62, Sergio Aguero memecah kebuntuan The Citizens lewat aksinya mengelabui penjaga gawang Petr Cech. Aguero mengirimkan bola lob yang tidak mampu dihalau Cech.

Unggul satu gol City justru memutuskan untuk sedikit mengendurkan tekanan. Hal ini sukses dimanfaatkan The Gunners untuk mencetak gol penyeimbang. Alex Oxlade-Chamberlain sukses mengirim umpan kepada Nacho Monreal utuk kemudian dikonversi menjadi gol pada menit ke-71. Sepakan Monreal membobol gawang Manchester City dan mengubah kedudukan menjadi 1-1.

Kedudukan imbang tersebut pun berjalan hingga waktu normal usai. Ini membuat pertandingan terpaksa dilanjutkan lewat extra time. Beruntung bagi Arsenal, pada babak tambahan Alexis Sanchez sukses membuat pendukung Manchester City terdiam. Pemain asal Cile tersebut sukses membobol gawang The Citizens sekaligus menyudahi laga dengan kemenangan 2-1 bagi Arsenal.


Klub Yang Menyesal Usai Ditinggal Pemain

Liga Premier Inggris menyajikan kompetisi yang begitu ketat. Tidak hanya antara klub satu dengan yang lainnya, namun persaingan antar pemain untuk mendapat spot di skuad reguler juga sangat ketat. Sehingga tak jarang banyak yang tidak kuat dan akhirnya memilih hengkang dari klub tersebut.

Namun apa sebenarnya yang menjadikan hal tersebut menarik? Yang membuat ini menarik yaitu, usai hengkang sang pemain justru tampil bersinar bersama klub barunya. Bukan sedikit pemain yang mengalami kejadian semacam ini, seperti contohnya beberapa nama yang sedang populer belakangan ini.

Daniel Sturridge, Romelu Lukaku dan bahkaan Joe Hart. Ketiga nama tersebut merupakan pemain yang memiliki kasus serupa. Jika untuk Sturridge mungkin tidak terlalu menarik perhatian, lain halnya dengan Lukaku dan Hart. Kedua pemain ini memang meninggalkan klub terdahulunya lantaran sulit bersaing.

Dan jika fakta bahwa mereka bersinar di tim barunya, ternyata di balik semua itu ada pihak yang menyesal. Siapa lagi kalau bukan mantan klub yang salah mengambil keputusan untuk menjual pemain-pemain tersebut. Berikut adalah kisah tentang pemain yang sukses membuat sang mantan klub menyesal pernah membuangnya.

Lukaku, Dulu Dibuang Kini Raja Top Skor

Lukaku saat masih berseragam The Blues

Lukaku saat masih berseragam The Blues

Siapa yang tidak mengenal sosok Romelu Lukaku? Pemain yang sekarang membela Everton ini memang sempat mengejutkan publik dengan menjadi top skorer Liga Inggris musim ini. Sangat mengejutkan mengingat Everton sendiri bahkan hanya menempati posisi papan tengah klasemen sementara saat ini.

Sebelum bergabung dengan The Toffees, Lukaku sempat berseragam Chelsea. Memang saat itu Lukaku bersama The Blues ketika mereka memiliki banyak stok penyerang. Merasa sulit untuk bersaing dengan sejumlah nama top di Stamford Bridge, Lukaku pun memutuskan untuk hengkang dan bergabung dengan Everton.

Dan seperti yang sudah kita duga, Lukaku berhasi tampil gemilang bersama klub asal Merseyside tersebut. Dan seperti yang sudah kita duga juga, dibalik kesuksesan pemain buangan, terdapat mantan yang menyesal. Hal ini tampaknya juga berlaku untuk The Blues mengingat mereka kini minim stok penyerang ujung berkualitas.

Drogba : Luar Biasa Jika Lukaku Kembali ke Chelsea

Drogba berharap Lukaku kembali ke Stamford Bridge

Drogba berharap Lukaku kembali ke Stamford Bridge

Kini Chelsea tidak lagi kebanjiran stok penyerang seperti dahulu. Bahkan kini manajer Antonio Conte kerap kebingungan ketika mereka kehilangan Diego Costa. Tidak ada lagi sosok penyerang gantung murni yang berdiri di depan gawang dengan naluri mencetak gol yang sangat tinggi.

Melihat kondisi ini, mantan punggawa The Blues, Didier Drogba pun angkat bicara. Drogba menyebutkan bahwa hal yang sangat baik jika Chelsea mencoba membujuk Lukaku untuk kembali ke Stamford Bridge. Menurutnya, penyerang asal Belgia tersebut memiliki chemistry yang cukup kuat dengan Skuad London Biru.

“Jika Romelu Lukaku bergabung Chelsea, itu merupakan kabar sangat baik. Dia mengenal orang-orang di Stamford Bridge. Saya rasa dia dapat membuktikan diri bersama Chelsea,” ujar Drogba saat ditanyakan media setempat.

Drogba pun mengaku sangat mengenal sosok Lukaku layaknya adik sendiri. Pria Pantai Gading tersebut memang sempat bermain bersama saat dirinya dan Lukaku masih berada di Stamford Bridge. Dan menurutnya, sosok pemain seperti Lukaku merupakan yang paling dibutuhkan Chelsea saat ini.

“Chelsea adalah klubnya sejak muda, kenapa tidak kembali ke sini? Dia bekerja sangat keras untuk menjadi yang terbaik. Saya sangat mengenal Lukaku karena dia telah seperti adik sendiri. Saya rasa dia mmerupakaan sosok pemain yang tim butuhkan” Tutup Drogba.


Performa Ozil dan Sanchez Semakin Memburuk

Sudah banyak sekali yang menyadari bahwa kini performa Arsenal sangat merosot tajam. Beberapa kali The Gunners menelan kekalahan dalam laga yang sebenarnya di atas kertas sangat bisa dimenangkan mereka. Hal ini pun menggiring asumsi banyak pihak bahwa semua bersumber dari permasalaha internal mereka yang tidak kunjung berkesudahan.

Sempat beberapa waktu lalu muncul kabar bahwa dua pemain andalan mereka, Mesut Ozil dan Alexis Sanchez tidak ingin memperpanjang kontrak mereka di Emirates. Menurut informasi, kedua pilar Arsenal tersebut sudah merasa putus asa untuk bisa meraih gelar bersaa The Gunners. Masalah ini pun mengundang komentar dari mantan pemain sekaligus legenda Liverpool, Jamie Carragher.

“Saya berpikir bahwa saat ini tim mereka sangat berantakan. Mereka berdua bermain sangat memalukan sejak dimulainya pembicaraan mengenai kontrak baru. Jelas sekali kita lihat, Sanchez tampil buruk dalam beberapa pertandingan terakhir. Sangat terlihat seakan mereka sengaja bermain buruk agar bisa hengkang. Mereka membicarakan tentang berapa besarnya gaji dan uang.” ujar Carragher.

Delph, Jadi Starter Langsung Cetak Gol

Fabian Delph yang berhasil mencetak gol usai lama absen sebagai starter

Fabian Delph yang berhasil mencetak gol usai lama absen sebagai starter

Beralih ke Kota Manchester, ada sosok pemain yang mungkin terbilang asing di telinga kita. Adalah Fabian Delph, yang sukses mencetak gol ketiga kala The Citizens menghabisi Hull City dengan skor akhir 3-0. Meski baru terlihat tampil, ternyata pemain tersebut telah berada di Etihad Stadium sejak 2015 lalu. Hanya saja, rentetan cedera membuat pemain berkepala plontos tersebut jarang dimainkan.

Sejak didatangkan dari Aston Villa, Delph memang jarang sekali tampil sebagai starter. Bahkan selama beberapa kali berganti sosok pelatih, jarang sekali performa Delph menghipnotis para penikmat sepakbola. Akan tetapi, dalam laga kontra Hull kemarin, Pep Guardiola mempercayakan Delph untuk bermain sebagai starter. Kepercayaan ini pun dibayar kontan oleh Delph dengan mencetak satu gol.

“Saya termasuk orang yang memiliki pandangan positif terhadap kehidupan dan karier yang saya jalani. Saya terus bekerja keras dan akhirnya manajer telah memberi saya kepercayaan. Saya memiliki kesempatan untuk bermain dalam dua pertandingan dan membuktikkan dapat tampil baik terutama pada pertandingan kedua,” ujar Delph dilansir media setempat.

De Gea Kena Nyinyiran Mourinho

De Gea kena sindiran Mourinho usai absen akibat cedera punggung

De Gea kena sindiran Mourinho usai absen akibat cedera punggung

Sementara itu dari klub Manchester lainnya, rival The Citizens Manchester United sedang berada dalam situasi yang kurang menyenangkan. Memang kemarin mereka sukses mengandaskan Sunderland di kandang dengan skor akhir 3-0. Namun terlepas dari kemenangan tersebut ternyata ada yang mengganjal di hati sang manajer Tim Setan Merah, Jose Mourinho.

Mourinho dikabarkan merasa kesal lantaran kiper utama mereka David De Gea tidak bisa bermain dalam laga tersebut. De Gea dilaporkan menderita cedera pada bagian punggungnya, namun hal itu dibantah Mou. Pria asal Portugal tersebut menyebutkan bahwa De Gea melebih-lebihkan cedera yang dideritanya yang sebetulnya ringan dan tidak terlalu parah.

“Cedera David De Gea tidaklah seserius yang kalian bayangkan. Itu hanya cedera ringan dan bukanlah merupakan masalah yang berarti. Dia hanya merasa sedikit tidak nyaman pada bagian punggungnya, sehingga dirinya memutuskan tidak bermain. Ironis bukan? Sementara itu, setiap kali Romero tampil sebagai kiper utama menggantikan De Gea, dia selalu bermain sangat baik.” sindir Mou.

Manajer yang juga pernah menangani Chelsea tersebut dikabarkan tidak puas dengan performa David De Gea saat kembali usai membela timnas Spanyol pada jeda internasional. Sebelumnya, David De Gea beberapa kali menampilkan permainan tidak konsisten di bawah mistar The Red Devils.


United Gagal Raih Poin Penuh di Old Trafford

Manchester United terpaksa merelakan tiga poin yang diharapkan bisa diraih ketika mereka menjamu Everton di Old Trafford dini hari tadi. The Red Devils yang turun dengan kekuatan penuh bahkan dengan kembalinya beberapa pilarnya tidak berhasil menghentikan perlawanan The Toffees. United bahkan harus tertinggal lebih dulu lewat aksi cerdik Phil Jagielka.

Tim Setan Merah sebenarnya bisa saja menyamakan kedudukan jika saja tandukan Zlatan Ibrahimovic tidak dianulir wasit. Hakim garis melihat posisi Ibra berada dalam posisi offside sebelum menerima umpan silang dari Ander Herrera. Padahal dalam tayangan ulang terlihat Zlatan masih berada dalam posisi aman dan bebas offside. Keputusan wasit ini tentu membuat Jose Mourinho geram.

Dari kubu lawan, sepertinya manajer Ronald Koeman berhasil membaca situasi. Kondisi Romelu Lukaku yang dijaga ketat membuat barisan pertahanan United lupa akan ancaman dua bek tengah The Toffees saat kondisi bola mati. Sebenarnya lini belakang Everton bermain cukup solid, hanya saja kesalahan Ashley Williams membuat wasit memberikan hadiah penalti bagi tuan rumah.

Kekecewaan Ibra Terhadap Keputusan Wasit

Ibrahimovic yang melakukan protes usai golnya dianulir wasit

Ibrahimovic yang melakukan protes usai golnya dianulir wasit

Zlatan Ibrahimovic mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan kontroversial wasit dalam laga kontra Everton dini hari tadi. Pemain asal Swedia tersebut kecewa sebab hakim garis yang menyatakan dirinya berada dalam posisi offside sebelum melakukan sundulan kearah gawang Everton yang dijaga Joel Robles. Padahal dalam tayangan ulang sangat jelas bahwa Ibra berdiri dalam posisi aman.

Keputusan ini tentu sangat merugikan bagi Manchester United yang tengah mencari tambahan poin untuk memastikan tiket zona Eropa di musim depan. Beruntung kecerobohan bek Ashley Williams di menit-menit akhir membuat tuan rumah mampu menyamakan skor lewat tendangan penalti. Ibra yang menjadi eksekutor pun sukses melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Menurut saya hasil ini tidaklah begitu buruk mengingat apa yang terjadi di lapangan. Kami kebobolan akibat kesalahan kami dalam mengantisipasi gerakan Jagielka. Kami berhasil mendominasi di sepanjang pertandingan. Namun karena suatu hal, kami gagal merobek jala mereka,” ujar Ibrahimovic.

Pemain yang juga pernah bermain untuk Juventus, Inter Milan dan AC Milan tersebut juga menyebutkan bahwa kini United tidak boleh kehilangan konsentrasi. “Kini kami harus tetap fokus dan tak boleh lagi ada kesalahan-kesalahan. Setiap poin dari sebuah laga sangatlah penting, terutama saat bersaing dalam kondisi seperti ini.” lanjutnya.

Mourinho Sayangkan Keputusan Wasit Anulir Gol Ibra

Pemain Everton yang berpesta usai membobol gawang United

Pemain Everton yang berpesta usai membobol gawang United

Terlepas dari beberapa hal yang terjadi dalam laga Manchester United kontra Everton tadi malam, ada satu yang menjadi sorotan publik. Yaitu dianulirnya gol Zlatan Ibrahimovic karena wasit menilai sang pemain telah berada dalam posisi offside sebelum menerima umpan. Keputusan hakim garis tersebut pun menghandirkan pro dan kontra salah satunya dari sang manajer, Jose Mourinho.

“Sebenarnya jika anda benar-benar menonton, kami mencetak dua gol yang sah. Namun kita semua tahu apa yang terjadi. Ya, saya hanya tersenyum karena tidak ada guna juga untuk marah kepada hakim garis. Saya paham bahwa ini keputusan sulit bagi mereka. Hanya video tayangan ulang yang bisa membantunya,” ujar pria yang juga pernah melatih Chelsea tersebut.

Tidak hanya dari pihak United yang berkomentar soal keputusan wasit. Jurnalis dari sebuah media di Inggris, Jamie Anderson pun ikut berkomentar soal gol Ibra yang dianulir. “Saya paham ini merupakan keputusan yang sangat sulit bagi wasit. Hanya sebagian anggota tubuh (kepala) Ibra yang berada dalam posisi offside. Namun, itu tetap keputusan tepat dan kita harus menghargai.”


Perbedaan Metode Latihan Conte dan Guardiola

Para pelatih atau manajer dalam sebuah klub memiliki gaya kepelatihannya masing-masing. Gaya melatih semacam ini kerap kali menjadi ciri khas atau karakteristik permainan tim yang bersangkutan. Seperti misalnya gaya melatih Jose Mourinho yang cenderung pragmatis, ini tentu akan berdampak kepada gaya bermain tim yang dilatihnya.

Liga Inggris merupakan kompetisi yang menjadi tempat berkumpulnya pelatih-pelatih berkualitas di dunia. Sebut saja nama-nama seperti Sir Alex Ferguson, Carlo Ancelotti, Antonio Conte hingga Josep Pep Guardiola. Dua nama terakhir merupakan sosok yang paling mencuri perhatian penikmat Liga Inggris selama semusim terakhir ini.

Antonio Conte dan Pep Guardiola, adalah dua manajer yang memutuskan untuk menangani klub Liga Premier (Chelsea dan Mancheseter City). Keputusan mereka berdua bisa dibilang cukup mengejutkan, mengingat karir mereka bersama klub asuhan mereka sebelumnya terbilang cemerlang dan cukup menjanjikan.

Namun tidak bisa disalahkan juga mengapa mereka berdua memutuskan untuk memilih hijrah ke negeri Ratu Elizabeth. Kerasnya atmosfir persaingan di Liga Inggris merupakan alasan mereka selain dari banyaknya pundi-pundi rupiah yang mereka terima dari klub raksasa Liga Inggris.

Perbedaan Prestasi Conte dan Pep

Antonio Conte yang terkenal ekspresif di pinggir lapangan

Antonio Conte yang terkenal ekspresif di pinggir lapangan

Baik Antonio Conte maupun Pep Guardiola terkenal memiliki latar belakang melatih dua klub yang memiliki gaya permainan yang berbeda. Conte bersama Juventus dan timnas Italia terkenal memiliki gaya bermain pragmatis dengan bertahan total sukses merajai kompetisi di negeri Spagetti tersebut. Sedangkan Pep bersama Barcelona dan Bayern Munchen terkenal dengan penguasaaan bola dan serangan yang bertubi-tubi.

Namun kini prestasi mereka berdua di Premier League bagaikan langit dan bumi. Antonio Conte sukses membawa Chelsea ke peringkat satu klasemen sementara, sedangkan Pep Guardiola justru tidak mampu memenuhi ekspektasi manajemen klub Manchester City. Malah City terpaksa kehilangan Joe Hart yang merupakan aset terbaik mereka sebagai kiper muda berbakat timnas Inggris.

Conte yang terkenal emosional tersebut berhasil membawa The Blues tampil impresif di sepanjang musim ini dengan hanya merekrut sedikit pemain baru. Sedangkan pembelian Pep atas Claudio Bravo justru tidak membawa perubahan yang cukup signifikan. Malah Bravo kerap dituding sebagai kambing hitam atas beberapa kekalahan Manchester City musim ini.

Gaya Melatih Yang Membosankan

Prestasi Pep Guardiola yang kurang memuaskan di Premier Liga

Prestasi Pep Guardiola yang kurang memuaskan di Premier Liga

Gaya kepelatihan Antonio Conte dan Pep Guardiola mengundang perhatian banyak pihak. Terutama pengamat dan kritikus Liga Inggris, Rio Ferdinand. Mantan punggawa Manchester United tersebut menilai Conte memiliki metode latihan yang cukup membosankan. Namun meskipun begitu, Ferdinand mengaku sangat takjub melihat hasil yang ditunjukan oleh para pemain Chelsea.

“Kunci dari strategi 3-4-3 adalah dengan melatihnya sesering mungkin. Para pemain Chelsea memainkan formasi tersebut dengan sangat baik.  Latihan semacam ini mengahabiskan waktu sekitar 30-40 menit dan cukup membosankan. Namun, kita semua melihat hal itu berdampak positif dalam pertandingan. Jadi banyak yang  percaya dengan keampuhan metode latihan dan strategi ala Conte tersebut,” ujar Ferdinand.

Sementara itu bek sayap Manchester City, Pablo Zabaleta justru sedikit antipati dengan gaya kepelatihan sang manajer, Pep Guardiola. Menurut Zabaleta, metode melatih Pep sangat membosankan bagi para pemain The Citizens.

“Guardiola kerap mencoba membuat tim berkembang. Dia selalu mencari cara terbaik untuk menyerang. Para pemain diharuskan menonton banyak video setiap hari selama 20-30 menit. Mungkin hal itu tidak masalah bagi para pemain yang sangat mencintai sepak bola. Akan tetapi jujur saja, itu terkadang membosankan.” ungkap Zabaleta.