Perbedaan Metode Latihan Conte dan Guardiola

Para pelatih atau manajer dalam sebuah klub memiliki gaya kepelatihannya masing-masing. Gaya melatih semacam ini kerap kali menjadi ciri khas atau karakteristik permainan tim yang bersangkutan. Seperti misalnya gaya melatih Jose Mourinho yang cenderung pragmatis, ini tentu akan berdampak kepada gaya bermain tim yang dilatihnya.

Liga Inggris merupakan kompetisi yang menjadi tempat berkumpulnya pelatih-pelatih berkualitas di dunia. Sebut saja nama-nama seperti Sir Alex Ferguson, Carlo Ancelotti, Antonio Conte hingga Josep Pep Guardiola. Dua nama terakhir merupakan sosok yang paling mencuri perhatian penikmat Liga Inggris selama semusim terakhir ini.

Antonio Conte dan Pep Guardiola, adalah dua manajer yang memutuskan untuk menangani klub Liga Premier (Chelsea dan Mancheseter City). Keputusan mereka berdua bisa dibilang cukup mengejutkan, mengingat karir mereka bersama klub asuhan mereka sebelumnya terbilang cemerlang dan cukup menjanjikan.

Namun tidak bisa disalahkan juga mengapa mereka berdua memutuskan untuk memilih hijrah ke negeri Ratu Elizabeth. Kerasnya atmosfir persaingan di Liga Inggris merupakan alasan mereka selain dari banyaknya pundi-pundi rupiah yang mereka terima dari klub raksasa Liga Inggris.

Perbedaan Prestasi Conte dan Pep

Antonio Conte yang terkenal ekspresif di pinggir lapangan

Antonio Conte yang terkenal ekspresif di pinggir lapangan

Baik Antonio Conte maupun Pep Guardiola terkenal memiliki latar belakang melatih dua klub yang memiliki gaya permainan yang berbeda. Conte bersama Juventus dan timnas Italia terkenal memiliki gaya bermain pragmatis dengan bertahan total sukses merajai kompetisi di negeri Spagetti tersebut. Sedangkan Pep bersama Barcelona dan Bayern Munchen terkenal dengan penguasaaan bola dan serangan yang bertubi-tubi.

Namun kini prestasi mereka berdua di Premier League bagaikan langit dan bumi. Antonio Conte sukses membawa Chelsea ke peringkat satu klasemen sementara, sedangkan Pep Guardiola justru tidak mampu memenuhi ekspektasi manajemen klub Manchester City. Malah City terpaksa kehilangan Joe Hart yang merupakan aset terbaik mereka sebagai kiper muda berbakat timnas Inggris.

Conte yang terkenal emosional tersebut berhasil membawa The Blues tampil impresif di sepanjang musim ini dengan hanya merekrut sedikit pemain baru. Sedangkan pembelian Pep atas Claudio Bravo justru tidak membawa perubahan yang cukup signifikan. Malah Bravo kerap dituding sebagai kambing hitam atas beberapa kekalahan Manchester City musim ini.

Gaya Melatih Yang Membosankan

Prestasi Pep Guardiola yang kurang memuaskan di Premier Liga

Prestasi Pep Guardiola yang kurang memuaskan di Premier Liga

Gaya kepelatihan Antonio Conte dan Pep Guardiola mengundang perhatian banyak pihak. Terutama pengamat dan kritikus Liga Inggris, Rio Ferdinand. Mantan punggawa Manchester United tersebut menilai Conte memiliki metode latihan yang cukup membosankan. Namun meskipun begitu, Ferdinand mengaku sangat takjub melihat hasil yang ditunjukan oleh para pemain Chelsea.

“Kunci dari strategi 3-4-3 adalah dengan melatihnya sesering mungkin. Para pemain Chelsea memainkan formasi tersebut dengan sangat baik.  Latihan semacam ini mengahabiskan waktu sekitar 30-40 menit dan cukup membosankan. Namun, kita semua melihat hal itu berdampak positif dalam pertandingan. Jadi banyak yang  percaya dengan keampuhan metode latihan dan strategi ala Conte tersebut,” ujar Ferdinand.

Sementara itu bek sayap Manchester City, Pablo Zabaleta justru sedikit antipati dengan gaya kepelatihan sang manajer, Pep Guardiola. Menurut Zabaleta, metode melatih Pep sangat membosankan bagi para pemain The Citizens.

“Guardiola kerap mencoba membuat tim berkembang. Dia selalu mencari cara terbaik untuk menyerang. Para pemain diharuskan menonton banyak video setiap hari selama 20-30 menit. Mungkin hal itu tidak masalah bagi para pemain yang sangat mencintai sepak bola. Akan tetapi jujur saja, itu terkadang membosankan.” ungkap Zabaleta.